Say Hai!

Cerita Kuliah

Hai!

Menyedihkan deh Januari 2012 tidak ada cerita sama sekali 😦

Banyak sekali yang harus dikerjakan tetapi selalu sok-sok-an tidak mempunyai waktu update blog ini bahkan untuk satu kali satu bulan sekalipun 😦

Februari 2012 hampir saja selesai. Makin menyedihkan jika selama dua bulan ini tidak pernah ditengok sama sekali.

Apa kabar kalian? pasti baik.

Saya juga baik.

5 hari lagi saya sidang skripsi, doakan saya ya agar mendapat nilai A dari dosen pembimbing dan semua dosen penguji.

Btw, hebat ya saya tidak seperti 3 tahun lalu, menggalau soal laporan magang 🙂

Sampai detik ini saya baik baik saja tanpa mengeluh, menggalau, atau meracau di dunia maya (di dunia nyata masih sih, sedikit).

Sampai ketemu lagi di bulan depan yaa.

Berdoa terus untuk semua kebaikan yang kalian lakukan!

Whooooosss *spread the happiness*

Siap Ngga Siap Harus Siap!

Cerita Kuliah

Kata siapa lo ngga siap?!

LO AKAN SIAP!

Kalaupun ngga, keadaan akhirnya akan memaksa lo buat siap.

sabrin, 05032008. *dia sms itu waktu saya mau UTS dan saya belum belajar sama sekali*

Saya masih ingat sms sabrin tersebut dan masih saya simpan di folder my document saya.

Dan kalimat itu yang akhirnya memaksa saya buat siap untuk menghadapi sesuatu hal yang sebenernya saya sudah tahu itu pasti bakal kejadian.

Setahun itu cepat berlalu ya?

Sampai akhirnya saya merasa de javu karena akan menghadapi hal yang hampir sama dengan setahun lalu.

Saya belum siap sebenarnya menghadapi ini.

Tetapi mau ngga mau saya harus siap!

Karena kalau ngga siap apapun yang saya kerjakan pasti hasilnya tidak maksimal. Iya kan?

*balik lagi ngerjain bab 1 dan bab 2 proposal skripsi yang tema skripsinya saja baru didapat sehari yang lalu*

Objektif

Cerita Kuliah, Chapter : Personal

Kemarin, saya mengikuti UAS untuk mata kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Tiba-tiba dosen saya bilang bahwa sebelum jawaban dikumpulkan, terlebih dahulu kita harus memberikan nilai atas jawaban kita sendiri.

Ada 15 soal. Satu soal poin penuhnya adalah 6. Tapi 15 soal x 6 = 90 poin. *ini nih yang buat saya bingung, kenapa ga dijadiin 100 ya?*

Semua mahasiswa bingung dong, hebohlah suasana saat itu. Bertanya-tanya buat apa dan bakal ngaruh apa ga sama penilaian dari dosennya.

Tadinya saya pikir dia mau mengetes rasa percaya diri kita dalam menjawab suatu soal. Ternyata dia bilang dia hanya mau observasi seberapa objektif si penilaian mahasiswa atas jawaban mereka sendiri? Jujur ga mereka dalam menilai itu?

Ooooohh ternyata.

Nah, sebenernya bisa ga si kita bersikap objektif dalam menilai diri sendiri? Agak susah ya. Coba kalau saya ditanya.

Kamu menilai diri kamu kaya’ gimana sih??

Maunya si saya bilang saya baik, saya pintar, saya cantik, saya rajin menabung dan yang baik-baik lainnya.

Eh, takut dibilang ke-pe-de-an, saya rubah lagi deh.

Saya jahat, saya bodoh, saya jelek, saya boros.

Tetapi kan saya juga ga mau dibilang seperti itu.

Sama saja dengan penilaian jawaban saya tadi, saya sih maunya kasih 6 poin ke semua soal biar bisa tertulis nilai 90. Tetapi ujung-ujungnya kata dosen saya, dia juga yang memberikan nilai. Yaaaahhh, kalau gitu sih saya jadi mengurangi penilaian biar ga disangka ke-pe-de-an dan ga nyesek kalau nilai harapan ga sesuai kenyataan. *lah? ini malah jadi minder sama jawaban sendiri*

Tetapi, kok  kayaknya kita lebih gampang ya menilai orang lain daripada menilai diri sendiri?

Aksi Mahasiswa

Cerita Kuliah

Kemarin malam saya lihat berita di tv tentang mahasiswa UI yang berdemo dan mencegat mobil Sri Mulayani di kampusnya sendiri.

Waktu itu tidak terlihat jelas anak fakultas mana yang melakukan itu. Teman saya bilang yang melakukan aksi itu adalah mahasiswa yang di jakun (jaket kuning)nya mempunyai emblem berwarna ………… yang menandakan mereka adalah anak fakultas……….. (saya tidak mau menyebutkan warna emblem dan fakultasnya). Saya sudah mengira pasti mahasiswa fakultas tersebut yang melakukannya, apalagi waktu melihat berita tadi pagi. Saya lihat dengan jelas mereka beraksi bahkan sampai naik ke kap mobil segala dan menghambat Sri Mulyani masuk ke lingkungan kampus.

Saya bingung dengan aksi mereka. Sri Mulyani datang ke kampus, ke fakultas ekonomi (FE) untuk mengajar kuliah umum. Dia datang kesana dengan kapabilitasnya sebagai dosen. Bukan sebagai Menteri Keuangan! Kalau mau mendemo dia ya emangnya tidak ada tempat lain ya? kenapa ga demo aja sekalian di depan departemen keuangan? kenapa harus di kampus? kenapa harus mencegat seorang dosen yang mau memberikan kuliah kepada mahasiswanya? Anak FE yang diajar olehnya juga santai santai saja toh? Malu-maluin saja bertindak seperti itu apalagi sampai diliput oleh televisi.

Jujur, saya sebagai mantan mahasiswa FE merasa sebal dengan tindakan mahasiswa lain tersebut. Walaupun saya tidak pernah diajarin oleh Sri Mulyani, tetapi tetap saja sebal jika salah satu dosen di fakultas saya diperlakukan seperti itu. Apa salahnya sih dia mengajar? jangan dicampur adukkan masalah politik dengan kerjaan dia di bidang pendidikan. Saya juga berbicara seperti ini di luar konteks saya membela dia atau tidak di kasus Century. Ah~~ saya jadi emosi sendiri menulis postingan ini.

Oh iya, saya baru saja membaca postingan di anakui.com. Disana saya baru tahu kalo ternyata yang demo itu salah satu komunitas di UI sendiri. Lah? saya saja baru dengar. hahaha.. entah saya yang ga gaul atau memang komunitasnya ga terkenal. Baca-bacain commentnya ternyata banyak mahasiswa UI yang ga setuju sama tindakan itu. Ini lagi ni salah satu bukti, “gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga”. Cuma gara-gara beberapa orang, akhirnya mempermalukan nama kampusnya sendiri.

Korupsi dan Integritas

Cerita Kuliah, Chapter : People

Senin minggu kemarin saya UAS mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Di soal terakhir tersebut, dosen saya memberikan pertanyaan yang garis besarnya seperti ini;

Fraud (salah satu bentuk fraud adalah korupsi) bisa terjadi karena 3 hal. Pressure (tekanan), Opportunity (kesempatan), dan Integrity (integritas/keimanan). Dari ketiga hal tersebut, mana menurut kalian yang paling menjadi penyebab paling besar?

Saya menjawab integrity untuk pertanyaan itu. Alasan paling masuk akal dan singkat adalah integritas seseorang yang baik, keimanan yang kuat, sebesar apapun tekanan dan kesempatan yang dia dapat, tentu dia tidak tergoda. Tetapi berhubung ini adalah soal essay, maka tanpa sadar saya menuliskan hampir satu halaman folio untuk menjawab soal itu. Dari soal alasan, uneg-uneg kekesalan karena ulah koruptor, sampai soal solusi. Hahaha, itupun saya berhenti menulis karena sadar makin lama tulisan tangan saya semakin sulit dibaca *saking menulis dengan kesal dan terburu-buru*.

Berbicara soal korupsi dengan orang-orang pasti bakal berbuntut panjang. Obrolan lebih ke arah ulah para koruptor, siapa saja orangnya, dan udah deh tuh semua umpatan caci maki keluar, yang lebih parahnya, terkadang kita lupa bahwa korupsi harus dicarikan solusinya, tidak bisa hanya mencaci maki saja. Beberapa orang jika ditanya soal solusi mengatasi korupsi mengatakan hukuman untuk para koruptor itu terlalu singkat, tidak sebanding dengan apa yang diperbuat. Lihat saja para petinggi negara kita yang merugikan uang negara hingga milyaran atau triliunan rupiah, paling banter hanya 3-8 tahun. Itu belum dipotong berbagai remisi yang nanti didapat. Begitu keluar dari penjara, mereka tidak kapok untuk korupsi lagi. Lah kalau tinggal di penjara bisa seperti tinggal di hotel kalau diberikan uang sogokan, kenapa harus takut? *nngg.. setelah digrebek kemarin masih bisa lagi ga nyogok?*. Coba bandingkan dengan negara lain yang hukumannya menjadi tahanan berpuluh-puluh tahun hingga seumur hidup.

Di soal tersebut, berdasarkan data dari KPK tahun 2009, dosen saya juga menyebutkan, bahwa lebih dari 50% korupsi di Indonesia berasal dari urusan Procurement (proyek pengadaan barang) dimana 80%nya disebabkan oleh penunjukan langsung supplier tanpa diadakannya open tender! Woow, supplier-supplier tersebut dengan gampangnya memberikan persenan kepada si empunya proyek agar mereka yang menjalankan proyek tersebut. Atau sang empunya proyek yang menawari iming-iming tersebut terhadap supplier. Ckckck.. permainan bisnispun dicemari oleh korupsi.

Koruptor

*gambar diambil dari sini

Tetapi, ada lagi yang suka kita lupakan. Korupsi bukan hanya berbentuk uang, korupsi tidak hanya dilakukan oleh para pejabat atau orang-orang yang serakah akan uang. Korupsi bisa berupa waktu. Nah, sepertinya banyak orang yang melakukan hal ini ya? hahaha.. masuk kantor ngaret, keluar kantor ngebut.

Korupsi juga bisa berbentuk korupsi fasilitas. Memakai mobil ber-plat merah di hari sabtu minggu, memakai komputer/laptop kantor buat internetan pribadi *kalau diizinkan bos gapapalah ya, asal ga berlebihan, saya yakin semua orang melakukannya ;p*, atau memakai/membawa ATK (Alat Tulis Kantor) ke rumah buar keperluan pribadi.

Lalu sebenernya, dengan cara apa sih kita menghilangkan korupsi? intinya sih balik lagi ke pribadi masing-masing. Coba lihat diri kita baik-baik, kita melakukan perbuatan itu atau tidak. Jangan hanya bisa memaki tetapi tanpa merubah prilaku sendiri. Mulai saja dari cara yang kecil, tidak lagi melakukan korupsi waktu atau fasilitas. Kuatkan lagi iman agar tidak tergoda dengan tekanan atau kesempatan besar sekalipun *inget sama dosa*. Kalau untuk korupsi uang, apalagi dalam jumlah besar dan dilakukan oleh para pejabat di negara kita, hukum-pun perlu bermain. Coba ditentukan lagi hukuman yang pantas bagi para koruptor agar mereka mendapat efek jera.Dan yang penting, UANG KORUPSI HARUS DIBALIKIN. Media massa juga harus ikut memberi hukuman dengan cara melakukan pemberitaan yang bisa membuat koruptor tersebut malu terhadap lingkungan sekitar, biar mereka inget, bahwa akibat ulah dia ga hanya dia saja yang merasakan akibat malunya, tetapi juga istri dan anak-anaknya. Apalagi kalau anaknya masih kecil, kan kasian jika diledekin “anak koruptor” terus-terusan.

*gambar diambil dari sini

Selain itu, anak anak jaman sekarang, sedari kecil atau SD harus diajarkan bahwa prilaku korupsi itu tidak baik, jangan sampai mereka melakukan hal tersebut karena melihat orang tuanya korupsi dan menganggap itu sebagai budaya yang diperbolehkan. Mau jadi apa Indonesia kalau penerus bangsanya ikut-ikutan korupsi sedari dini?

Oh ya, saya menulis tentang korupsi ini dalam rangka mengikuti ajakan mas joddie untuk turut serta dalam Anti Korupsi Blogpost Competition yang diadakannya di blognya. Hehehe, sebelumnya saya belum pernah ikut kompetisi menulis apapun, ini adalah yang pertama. Sekalian melatih diri menjadi open writer yang baik 😀

Kalau kalian mau ikutan, hayooo ikutan. Penutupannya sampai tanggal 4 Maret 2010 koq, menang ga menang blog kalian terdaftar di buku yang akan diterbitkan. Lumayan kan? 😀