Objektif

Cerita Kuliah, Chapter : Personal

Kemarin, saya mengikuti UAS untuk mata kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Tiba-tiba dosen saya bilang bahwa sebelum jawaban dikumpulkan, terlebih dahulu kita harus memberikan nilai atas jawaban kita sendiri.

Ada 15 soal. Satu soal poin penuhnya adalah 6. Tapi 15 soal x 6 = 90 poin. *ini nih yang buat saya bingung, kenapa ga dijadiin 100 ya?*

Semua mahasiswa bingung dong, hebohlah suasana saat itu. Bertanya-tanya buat apa dan bakal ngaruh apa ga sama penilaian dari dosennya.

Tadinya saya pikir dia mau mengetes rasa percaya diri kita dalam menjawab suatu soal. Ternyata dia bilang dia hanya mau observasi seberapa objektif si penilaian mahasiswa atas jawaban mereka sendiri? Jujur ga mereka dalam menilai itu?

Ooooohh ternyata.

Nah, sebenernya bisa ga si kita bersikap objektif dalam menilai diri sendiri? Agak susah ya. Coba kalau saya ditanya.

Kamu menilai diri kamu kaya’ gimana sih??

Maunya si saya bilang saya baik, saya pintar, saya cantik, saya rajin menabung dan yang baik-baik lainnya.

Eh, takut dibilang ke-pe-de-an, saya rubah lagi deh.

Saya jahat, saya bodoh, saya jelek, saya boros.

Tetapi kan saya juga ga mau dibilang seperti itu.

Sama saja dengan penilaian jawaban saya tadi, saya sih maunya kasih 6 poin ke semua soal biar bisa tertulis nilai 90. Tetapi ujung-ujungnya kata dosen saya, dia juga yang memberikan nilai. Yaaaahhh, kalau gitu sih saya jadi mengurangi penilaian biar ga disangka ke-pe-de-an dan ga nyesek kalau nilai harapan ga sesuai kenyataan. *lah? ini malah jadi minder sama jawaban sendiri*

Tetapi, kok  kayaknya kita lebih gampang ya menilai orang lain daripada menilai diri sendiri?

Advertisements

14 thoughts on “Objektif

  1. haha.. susah obyektif psstinya kalau menilai diri sendiri ,kirain yg 10 sisanya dosen kamu yg nilai 😀

    tapi kalau Allah yg menilai pasti bener terus deh,karena Allah hakim yang paling bijaksana,yang maha menilai 🙂

    salam

  2. maunya sih yang bagus bagus. dulu sewaktu sekolah saya dan teman2 pernah iseng saling menilai teman2 beserta plus minusnya dan hasilnya dituliskan pada selembar kertas. seru…

  3. setubuuuuu dengan pernyataanmu syl. lebih ribet nilai diri sendiri daripada orang laen. Kalo nilai orang laen tanpa diminta kadang suka keceplosan sendiri, “si ini orangnya gini ya, si anu ko begitu yaaaa”, hahahaha, ujung2nya jadi gosip. Ga boleh ditiru ituuu.

    Tapi nilai diri sendiri itu juga perlu siyh, biar tau sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri. Kalo masih belum tau, boleh tuh minta bantuan orang terdekat untuk menilai kita. :p

    Jadi nilaimu lebih besarkah dari penilaian dosenmu syl? :p

    1. hehehehhehe..ih kamu bener banget.
      ujung2nya jadi gosip 😳

      nah itu chie, hasilnya belum ketauan, ngarepnya si nilai dosennya jauuuuuh lebih besar dari penilaian gw 😀

  4. karena kita gak tau itu benar atau salah ya kita pede aja kasih angka full aja sil 😆 kalo disalahin kamu gak objektif, lah kan saya gak tau yg bener yg mana, kan menurut saya lho :p

  5. Baru aja kemaren gw direview hasil kinerja gw selama 7 bulan ini dikantor pres.
    Awalnya sebelum bos kasih penilaian gimana hasil kerja gw, gw disuruh nilai diri gw sendiri dulu. Langsung gw kepikiran UAS SIM kemaren yg disuruh nilai sendiri dulu.
    Bener sulit bgt nilai diri sendiri. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s