Melepaskan

Di penghujung Maret kemarin di kepala saya sudah tidak sabar menumpahkan cerita. Bermula dari ketidakpulangan kucing peliharaan saya sore itu ke rumah. Hari pertama, kedua, ketiga kemudian mulai muncul perasaan tidak nyaman sampai terbawa ke dalam mimpi, dan pastinya bukan mimpi yang menyenangkan.

2 hari kemudian apa yang saya harapkan terjadi. Kucing saya balik ke rumah lagi walau saat itu kondisinya sudah lemah. Langsung saya kasih makanan + vitamin dan untungnya dia masih mau makan. Niatnya mau periksa ke dokter, tetapi takut dia trauma jadi saya pikir ah nanti saja, biarkan dia menikmati suasana rumah dulu.

Sayangnya keesokan harinya dia mendadak tidak mau makan, mulai muncul warna hitam di sekitaran mulut dan kondisinya jauh lebih lemah dibanding kemarin. Langung sigap mencari dokter hewan (vet) yang sudah buka sejak pagi hari dan ternyata ada vet yang praktek tidak jauh dari rumah. Bergegaslah dibawa ke sana dan feeling saya benar, dia terkena virus calici.

Bagi yang memelihara kucing, virus ini termasuk menakutkan karena menyerang pernapasan dan mulut kucing. Penularannya berlangsung cepat sekali, saya langsung mengasingkan tempat makan dan tempat tidurnya, juga memberi disinfektan pada setiap tempat yang dilalui agar tidak menulari kucing saya yang lain. Tingkat kesembuhannya tergantung seberapa parah virusnya dan sesuai dengan imun kucing masing masing. Dulu kucing saya sebelumnya pernah terkena virus dan gejala yang sama dan hanya bertahan 3 hari di klinik dokter hewan.

2 minggu pertama dirawat saya sempat menjenguk kucing saya tersebut, badannya masih lemah dan nafsu makannya tidak stabil, tetapi kata dokternya masa kritisnya sudah lewat. Hanya waktu itu dia masih belum diperbolehkan pulang. Jadilah saya harus menunggu lagi kabar dia menjadi lebih baik,

yang nyatanya ngga juga. Beberapa hari kemudian nafsu makannya malah tidak menentu dan terpaksa harus disuapi dokter. Saya dan keluarga makin ngga sabar membawa dia pulang ke rumah karena merasa dia stress terlalu lama dirawat dan berada dalam kandang. Seminggu sejak saya jenguk saya memaksakan dia untuk dibawa pulang ke rumah, dan langsung dong guling gulingan di jalan ketika dikeluarkan dari kandang. Kangen kali ya, dan untuk pertama kalinya dia mau makan sendiri dari piring makannya. Happy? Banget!

Sore itu, seminggu yang lalu, saya menemani dia jalan jalan mengikuti rute kemana dia biasanya pergi bermain. Herannya, dia ini selalu mencari genangan dan mendekati got. Buru buru saya balikin dia ke rumah karena takut dia pergi semakin jauh. Tidak sampai 24 jam, kondisi kucing saya makin melemah, nafsu makannya kembali hilang dan tidak mau dimasuki makanan apapun, bahkan air minum pun ngga disentuh sama sekali. Mulai mencari tempat yang gelap dan tidak mau datang ketika dipanggil.

Takut terjadi apa apa saya kembali membawanya ke vet yang berbeda. Kali ini mendatangi vet langganan untuk semua kucing yang pernah saya pelihara. Waktu diperiksa oleh vet, ternyata penyakitnya belum 100% sembuh, suhu tubuhnya makin menurun dan dia mengalami dehidrasi berat. Mendengar pernyataan itu hati saya mencelos. Tidak lagi berdoa agar dia segera sembuh seperti 3 minggu sebelumnya tetapi berdoa agar dia diberikan jalan yang terbaik.

Kucing saya ini sudah tinggal bersama kami lebih dari 10 tahun. Tidak lagi dianggap sebagai peliharaan semata melainkan sudah jadi bagian dari keluarga. Berat rasanya untuk melepaskan, tetapi lebih egois lagi jika memaksanya bertahan, apalagi mengingat kondisinya waktu itu. 2 hari kemudian datang berita dari vet yang sudah saya perkirakan, kucing saya tidak tertolong. Beragam cara pengobatan dilakukan ternyata masih belum cukup.

Kucing saya pergi sesuai waktunya dan saya harus siap mengikhlaskan.

Tidak lagi mendengar teriakannya saat meminta makan dan tidak ada lagi panggilan nama yang ditujukan walaupun masih sering dibicarakan hingga saat ini.

Selamat jalan boss Chaplin, you’ll be missed, always.

****

Beberapa hari terakhir ini saya mengikuti berita mengenai kapal selama KRI Nanggala 402 yang menghilang di perairan laut utara Bali sejak Rabu lalu. Dari berita pencairan hingga ditemukannya pecahan kapal, saya selalu tidak kuat dan menangis saat membaca beritanya. Kabar terbaru yang saya baca hingga malam ini 53 awak kapal selam KRI Nanggala 402 akhirnya dinyatakan meninggal setelah ditemukan bagian kapal yang terpecah hingga 3 bagian di kedalaman 830 meter. Innalilahi wa innailaihi rojiun.

Fair seas and following winds on your eternal patrol, sailors!

photo cr: @gumpnhell

5 Comments Add yours

  1. Dita says:

    Kakkk T___T

    But I’m sure he had a good life with you and your family. And maybe now he’s in a better place anyway, karna kan sudah ga sakit lagi :’)

    1. presyl says:

      Huhuhu bener banget dit, setidaknya dia udah ga kesakitan lagi 😉

  2. Bang Ical says:

    baru kemarin pula kucing sahabatku, yang otomatis kucing itu pun menjadi sahabatku, meninggal dunia. ia kucing yang antik karena bisa membuka pintu sendiri meski sudah ditutup (tapi tentu tidak dikunci). kucing adalah peliharaan yang gampang membuat kita jatuh cinta setiap hari. turut berduka, kakak. innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

    1. presyl says:

      “kucing adalah peliharaan yang gampang membuat kita jatuh cinta”

      Bener banget, kayak sesebel apapun kelakuannya tapi kalau minta makan langsung diambilin 🥺. Makasih ys cal

      1. Bang Ical says:

        Betul, tatapan mereka itu lho 🤭 Siap, kakak ☺️

Leave a Reply to presyl Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s