Lebaran di Kampung Halaman

Chapter : People

Besok senin! Liburan telah usai! *kemudian pada gagal mau baca*

Selamat Idul Fitri dulu ah buat yang merayakan~ maaf lahir batin dulu biar ngga slek #aseeeek

Jadi gimana libur Lebaran? mudik? leyeh leyeh ngabisin kue? jalan jalan ke mall?

Saya mudik di hari kedua Lebaran dan jalanan Jakarta sudah lengang, cuma butuh waktu 30 menit perjalanan rumah-bandara, 50 menit perjalanan udara, 30 menit perjalanan bandara-rumah, huehehe nikmatnya mudik dekat ya begini.

Berhubung ini Lebaran kedua di kampung halaman *yang pertama kali saya udah lupa juga*, jadi baru ngerasain bedanya merayakan Lebaran di Jakarta dengan di Palembang. Bagi yang sering merayakan di daerah asal mungkin terlihat biasa, cuma bagi saya jadi keliatan wah aja sih.

Saya jabarin ya beberapa hal yang membuat Lebaran di kampung halaman terlihat berbeda di mata saya.

1. Kunjungan balik

Orang tua saya anak hampir bungsu, dipastikan saat silaturahmi atau halal bihalal lebih banyak berkunjung ke rumah saudara orang tua yang lebih tua. Waktu di Palembang kemarin juga seperti itu, bedanya setelah kita berkunjung ke saudara yang lebih tua, besok atau lusanya mereka balik mengunjungi rumah adik adiknya atau bahkan keponakan mereka! wow aja sih, kalau dipikir, ah kemarin kan sudah bertemu buat apa berkunjung balik. Nyatanya disini udah jadi budaya, hebatnya lagi mereka ngga memperdulikan hirarki umur. Selama ada waktu, pasti mereka sempatkan untuk berkunjung.

2. Ngga berhenti menawarkan makanan sampai tamu makan

Masih menyangkut hal saat silaturahmi, kalau di Jakarta ketika tuan rumah menawarkan makanan, dan kita ngga mau makan atau hanya icip icip kue sedikit mereka masih memaklumi. Herannya selama saya disana, ngga cuma sekedar membuka toples kue kering dan menyediakan minuman, tetapi juga menawarkan pempek dan kue basah yang bukan lagi masuk kategori cemilan ringan plus makanan berat.

tuan rumah: bentar, gorengin pempek dulu ya

tamu: ngga usah, ngga usah repot repot yu, kita cuma sebentar

tuan rumah: ah idak idak, harus cobain ini dulu, aku bikin sendiri loh

disajiin pempek goreng sepiring, 10 menit kemudian

tamu: laah, kok abis ya, huehehe

Kalau 1-2 rumah yang dikunjungi seperti ini sih gapapa, sayangnya jadwal silahturahmi kemarin sampai lebih dari 10 rumah. Perut saya gimana mau menolak cobaaa *lempar timbangan jauh jauh*

Pempek, kue basah dan makanan berat yang disajikan itu biasanya mereka buat sendiri, jadinya mereka pengen banget kalau tamunya itu bisa mencicipi makanan mereka. Secara suatu kebanggan juga kali ya kalau makanannya dibilang enak, dan herannya enak enak semua. Kalau kita menolak makan, jangan harap boleh pulang, hahaha.

3. Salam tempel

Nama lainnya bisa angpao, bisa THR, apapun lah itu namanya. Biasanya yang diberikan beberapa lembar uang baru untuk para bocah, yaa walaupun saya juga ngga nolak kalau dikasih ;p. Untuk yang ini mungkin ngga hanya di kampung halaman, tetapi berlaku untuk semua, termasuk di Jakarta. Cuma ngga tau kenapa kayaknya kemarin lebih seru bagi bagi THR disana dibandingkan disini, mungkin karena bocahnya lebih banyak.

4. Bicara tanpa sadar dengan bahasa atau beraksen daerah asal

Jadwal mudik saya cuma 4 hari 3 malam, tetapi terus terusan mendengarkan bahasa orang sana tanpa sadar membuat saya beradaptasi dengan sendirinya. Mendadak ada akses atau nada suara khas yang biasa didengar di kampung halaman. Ah, satu lagi yang ketauan banget perbedannya. Ngga ada yang namanya “gue dan lo” yang ada hanya “aku dan kamu” (jangan geer dulu ya kalau di-aku-kamu-in #eh), kalau untuk di Palembang dan kota kota di Sumatera biasa menyebutnya “aku dan kau“.

5. Pertanyaan kapan nikah?

Momok banget ngga sih bagi orang yang belum menikah ditanyain pertanyaan seperti ini? atau pertanyaan kapan lulus? kapan punya anak? dan pertanyaan kapan lainnya yang bikin kesal hati. Sudah menyiapkan diri menerima pertanyaan ini ternyata sama sekali mereka ngga nanya karena mengira saya masih belum lulus kuliah, bahagiaaa! MUHAHA. Karena mereka lebih tertarik bertanya kepada ibu saya “kapan mantu?” ketika tau saya sudah kerja πŸ˜‚πŸ˜‚. Saya ngga kesal sih karena yang bertanya biasanya yang sudah sepuh, huehehe, dan ketika dijawab belum mereka langsung mendoakan, bukannya bilang “kebanyakan pilih pilih sih” 😏 *evilsmirk

Hal hal macam ini yang membuat saya jadi kepikiran ingin balik lagi ke Palembang saat Lebaran. Ngga salah jika banyak orang bela belain mudik berjam berjam demi lebaran di kampung halaman, menyenangkan ya ternyata.

Selain 5 hal di atas itu yang saya ceritakan, mungkin masih banyak yang bikin seru, yang bikin beda. Menurut kamu gitu juga ngga?

Advertisements

12 thoughts on “Lebaran di Kampung Halaman

  1. Momen makan makan itu Syll yang bikin aku mual pas malem, hari kedua lebaran… 2 hari lho makan terus, sampe eneg liat makanan… Hahaha

    1. Udah gitu makanannya itu lagi itu lagi kan? Begaaaah, tp kalau ngga makan berat jatuhnya malah ngemil kue ga abis abis, hahaha

  2. Saya masih belum pernah merasakan mudik soalnya masih tinggal sama ortu. Tapi dulu mudiknya paling ke rumah nenek di desa. Semenjak kakek nenek meninggal, kita lebarannya di rumah saja πŸ˜€

    1. Itu saya juga udah ngga ada kakek nenek lagi, cuma ada beberapa saudara disana, jadi silahturahmi sekalian jalan jalan, kalau jalan jalan ke kota lain udah mahal mahal semua tiketnya πŸ˜‚

  3. Aku tuh dari tahun kapan niat buat puasa syawal tapi selalu gagal krn momen lebaran makanan berlimpah, sayang klo ga diabisin hueheheh.. aku juga msh ga berani liat timbangan πŸ˜₯πŸ˜₯

  4. Iyaa yang makan itu. Ternyata orang Palembang sendiri kl berkunjung ya langsung makan ya. Pdhl yg sini masih sungkan2 sampe dipaksa hehehe

    1. Hahaha itu yang bikin kaget juga mba, baru duduk udah main buka toples kue πŸ˜‚πŸ˜‚, tp mungkin karena udah ngerasa akrab jadi ga ada kata sungkan

  5. Bahagianya bisa merasakan mudik. Hahaha tadinya nolak makan. Pas makanannya ada, langsung habis dalam sekejap πŸ˜€
    jadi, kapan nikah? *eh πŸ˜€
    nice artikel, jadi ingin mudik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s