Incomplete Life

Chapter : Workplace

I worked hard. No, I didn’t work hard. That’s why I needed to break into society. That’s why I got left behind.

-Jang Geu Rae

Pergi pagi, pulang petang, menembus kemacetan, sampai rumah pun sudah tepar

Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menjadi rutinitas.

Rutinitas pekerja, lebih spesifiknya pekerja kantoran.

Misaeng (Incomplete Life) Menceritakan tentang Jang Geu Rae, pria berumur 26 tahun yang berjuang untuk bertahan dengan lingkungan kerjanya.

Dimulai dari menjadi trainee di salah satu perusahaan besar (One International) hingga berhasil mengalahkan belasan orang lainnya untuk menjadi karyawan yang (hanya) dikontrak selama 2 tahun.

Terlihat biasa? tidak.

Jang Geu Rae tidak mempunyai gelar apapun, dia hanya mempunyai GED, ijazah setara SMA karena dulu dia bersekolah untuk menjadi pemain igo (baduk=catur tradisional korea) profesional yang harus terhenti karena sibuk mencari uang dengan kerja sambilan.

Bertahan dengan spesifikasi yang jauh dibawah pesaing lainnya tentu tidak mudah. Diremehkan, diacuhkan, dan tidak dianggap.

Dia sadar dan dia tidak menyalahkan nasibnya, makanya dia berjuang jauh jauh lebih keras dibanding orang normal lainnya. Dia hanya menawarkan kuantitas, bukan kualitas.

Permasalahan Jang Geu Rae dengan pekerjaan, hubungan atasan dan partner kerja, serta pertemanan dengan 3 trainee lain (yang berhasil menjadi karyawan tetap) di lingkungan kerja menjadi inti cerita di setiap episodenya.

Drama ini berasa nyata karena permasalahan Jang Geu Rae (dan 3 teman seangkatannya) hampir setiap orang pernah mengalaminya. Permasalahan sebagai staf junior, newbie, level paling bawah di setiap kantor.

Dari cuma disuruh fotocopy, merapikan dokumen, ngecek tulisan di kontrak, dan disuruh sana sini yang terkadang di luar pekerjaan, walaupun kalian ngerasa spesifikasi/kemampuan kalian setara sama level asisten manager. Belum lagi ketika dimarahin atasan karena benar kita salah atau sekedar pelampiasan atasan yang lagi bad mood karena habis dimarahin atasan yang lebih tinggi.

Semua itu normal.

Biasa terjadi.

Satu hal yang membuat Jang Geu Rae lebih beruntung dari teman-temannya. Ditempatkan di Sales Team 3, Jang Geu Rae menjadi anak buah Chief Oh yang baik dan bersedia mengajari ilmu baru plus punya partner yang asik seperti Kim Dong Shik layaknya seorang kakak.

3 temannya yang lain? Ada yang mendapat atasan ngeselin, suka nyuruh-nyuruh ga penting, atau bahkan yang sombongnya setengah mati.

Atasan-atasan macam begini yang biasanya jadi bahan obrolan saat sesi curhat. Termasuk Jang Geu Rae dkk. Mereka seakan punya radar sendiri ketika teman satu angkatan punya masalah di bagian kerjanya.

Jang Geu Rae memang hanya lulusan setara SMA, tetapi dia cepat menangkap pelajaran baru dan sering memberikan ide-ide brilian karena pikirannya masih polos.

Sayangnya, semua ide tersebut sering terbentur dengan politik kantor, kalah sama kekuasan dan jabatan yang lebih kuat, dan kerja keras Jang Geu Rae hanya dianggap angin lalu setelah 2 tahun masa kontraknya habis dan tidak diperpanjang.

and even if your hard work isn’t acknowledged, you’ve got to clock in at the same time the next day, ready for a whole new set of demons

-dramabeans.

Menyedihkan ngga sih Jang Geu Rae? Rasanya pengen meluk dia sambil bilang It’s okay it’okay.

Penonton mendukung Jang Geu Rae bukan hanya karena simpati, tetapi karena pernah merasakan setidaknya satu hal permasalahan yang dialaminya, termasuk saya.

Dia mengajarkan kita untuk bertahan di lingkungan kerja yang keras. Belajar berpikir simple but out of the box. Belajar bagaimana mengahadapi atasan-atasan yang menyebalkan.

Courage is not only characterized by readily jumping into risky situations. Avoiding these situations and silently going on your own path is also considered courageous. Following your own path is your best defensive and offensive measure.

Jang Geu Rae

Menonton Misaeng setiap minggunya selalu mengingatkan saya pada hubungan saya dengan pekerjaan, dengan atasan, dengan partner kerja, dan tentunya teman seangkatan seperjuangan di kantor.

Belum lagi dengan intrik dan politik yang sebenarnya baik di kantor swasta maupun kantor pemerintahan itu ngga ada bedanya. Sama-sama membuat kita sadar bahwa level staf macam saya atau Jang Geu Rae itu powerless.

Btw, Misaeng sudah berjalan 16 episode dari 20 episode yang direncanakan. Dari episode pertama saya sudah pengen banget buat menceritakan ini dan merekomendasikan buat kalian yang ngerasa nasibnya ngga beda jauh dengan Jang Geu Rae dkk. Tetapi baru direalisasikan sekarang setelah 2 episode sebelumnya saya nangis bombay ketika menonton. HAHAHA.

Di luar plot cerita, setting drama yang “kantor” banget dengan cubicle-nya dan akting para pemeran yang sumpah keren banget (terutama Jang Geu Rae dkk plus Chief Oh) yang membuat kita berasa ngga nonton drama, tetapi melihat kehidupan sehari-hari.

atau bahkan jadi bertanya-tanya pada diri sendirii.

Benar kita bekerja sesuai apa yang kita mau? Atau sekedar menjadi salary(wo)man yang hanya mengejar gaji dan promosi?

You have to survive. Surviving means going towards a complete life

and here, we’re all still incomplete.

Chief Oh

 

bonus: ada satu hal yang buat saya iri sama kantornya Jang Geu Rae. Rooftop!

The rooftop!

gif diambil dari sini

Kantor saya? Iisssshh ngga boleh masuk :((

update: yang mau menonton Misaeng, coba cek di sini atau sini 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Incomplete Life

    1. iyaaa enak banget, rooftop-nya tuh bisa buat curhat, nangis, tempat diomelin bos, tempat berantem juga. tapi jangan sampe terjun bebas juga sih sar :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s