Like a Child

Chapter : People

Pernah ngerasain ga, dulu waktu kecil kalian suka berpikir “enak ya jadi orang dewasa, mau ngapa-ngapain boleh, ga dilarang-larang, ga disuruh tiap hari belajar, kapan sih gue gedenya?”

Ternyata setelah besar, ngga sedikit orang yang kangen masa kecilnya, “ternyata enakan jadi anak-anak, ga perlu mikir banyak masalah, cuma taunya main dan belajar

Well, kalau saya sih ngga ;p

Dari dulu saya ga tertarik jadi orang dewasa, layaknya peterpan, maunya tuh di dunia anak-anak melulu.

Kenyataannya, dari dulu Tuhan selalu menempatkan saya di tengah-tengah orang yang lebih tua (saya kecepetan sekolah ;p) dan sekarang di dunia kerja, boss dan partner kerja itu usianya sepantaran sama bapak ibu saya.

Mau ga mau kan ya, proses pendewasaan yang terpaksa :))

Seperti yang saya bilang, anak-anak itu masih murni, masih polos, pikiran mereka itu luas tetapi itu ga bikin rumit diri sendiri kayak orang dewasa.

Keingintahuan mereka itu banyak, walaupun banyak pertanyaan itu terkadang ngeselin, tetapi proses pembelajaran anak-anak tuh menarik. Iya ga sih?

Sayangnya, dunia anak-anak jaman saya dengan sekarang itu berbeda.

Kalau dulu waktu kecil saya taunya itu main bola bekel, main congklak, main karet (lompat tali), main monopoli plus kartu remi sama tetangga seumuran.

Sore-sore dipanggilin “presy main yuuukk!” terus keliling komplek naik sepeda atau ga main petak umpet.

Sekarang, keponakan saya yang umurnya 5-6 tahun udah mainan ipad 😦

Anak teman saya, baru umur 3 tahun juga udah minta dibeliin ipad 😦

Memang sih, zaman berubah, teknologi berkembang, alasan orang tua main mainan di ipad atau ipad-ipad-an itu merangsang otak anak, biar lebih pintar katanya.

Namun, sadar juga ga rata-rata anak SD sekarang banyak yang sudah pakai kaca mata lho 😦

Terlalu akrab dengan layar komputer/laptop.

Terlalu lama berdiam diri di kamar, hanya bergaul lewat media sosial.

Okeee, katakan anak-anak yang ngga dibeliin ipad atau main komputer, anak itu aman dari tayangan TV ga?

Sudah sedikit banget (kalau ngga mau dibilang ngga ada) tayangan TV yang mendidik anak-anak dengan benar.

Anak-anak sekarang dibombardir dengan tayangan ga perlu.

Sinetron (dengan karakter tokoh yang ngga masuk akal), acara musik (yang kebanyakan joget-joget ga jelas), acara komedi (yang lebih banyak kata kasar dan umpatan-yang-bagi-mereka-lucu), termasuk berita yang sekarang lebih banyak menyiarkan berita negatif (kekerasan, kriminal, korupsi) daripada berita positif.

Miris ngga sih?

Saya ngga menyalahkan anak-anak, saya mempertanyakan pengawasan dan didikan orang dewasa di sekitarnya.

If you turn into a child and use pure, innocent eyes to view the people in the world, wouldn’t this world be blessed with happiness? – Jung Yong Hwa

Karena anak-anak, sampai kapanpun tetaplah anak-anak.

————————————————————–

Btw, saya lagi suka banget sama lagu ini.

Lagu yang membuat saya nostalgia masa kecil.

Lagu yang menjadi awal mula tulisan ini 😀

Like a Child – CN BLUE

cr to the owner

music start from 02.08, tapi ngga nyesel kok ditonton dari awal ;p

Advertisements

4 thoughts on “Like a Child

  1. sama dengan mas jensen, saya juga pengen stop aging di umuran mahasiswa tahun ke 2 :mrgreen:

    btw, saya juga mengidap peterpan syndrom koq, dan yaa, miris juga bagaimana anak-anak jaman sekarang bertumbuh dengan stimulus yang negatif begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s