Forgiveness

Chapter : People

You know your facts are right or that you’ve been wronged with an insulting remark, sarcastic comment or rudeness.

And so, you choose to hold a grudge. After all, you’ve got a right to. Nobody should be treated this way. Why should you forgive? You’re not the one who started this. You’re not the one who doesn’t have the facts straight.

source : here

Saya membaca potongan cerita tersebut di dashboard tumblr saya. Langsung ‘mengena’ banget sejak kalimat You know your facts are right and Why should you forgive?

Pernah ga sih merasa seperti itu? ketika kamu berada di posisi tidak bersalah, pernah ga selintas kepikiran “kenapa saya harus memaafkan? kenapa saya harus minta maaf duluan kalau dia duluan yang memusuhi saya?

Hmm.. jujur sih saya pernah.

Walaupun tidak menyimpan dendam, tetapi saya masih ingat ketika saya menulis kalimat ini di salah satu account jejaring sosial (rahasia) saya.

sekali-kali gw juga mau egois! gw ga mau minta maaf duluan karena gw ga salah.

Ok, sedikit memalukan memang, tetapi saking kesalnya pada waktu itu, terucap aja gitu kalimat tersebut?

Dan beberapa waktu kemudian saya membaca kutipan diatas, langsung rasanya DAAANG! kena banget. BANGET.

Ujung-ujungnya saya ga (berani) jadi egois. Ujung-ujungnya saya duluan yang berbicara.

Is there not something strange about asking for Allah’s forgiveness of our sins while withholding our forgiveness from someone who has hurt us?

source : here

and yes! it’s true, I’m feeling soooo embarrassed.

Jadi, memang sudah sepatutnya ngebuang semua keegoisan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Apalagi soal meminta maaf dan memaafkan ini. Pas banget kan momentnya di bulan Ramadhan untuk instropeksi diri dan membuka hati kita agar bisa saling memaafkan 😀

Advertisements

9 thoughts on “Forgiveness

  1. Sama. Saya juga pernah merasa begitu. “Saya merasa benar, tidak bersalah, jadi mengapa harus minta maap?” Itu yang saya pikirkan. “Harusnya yang salah dong, yang minta maap!”
    Tapi lama-lama saya pikir, itu sih tidak ada bedanya dengan sombong! 😛

    Apalagi, dalam berbagai kisah jaman Rasulullah dulu sering diceritakan orang yang meminta maaf duluan, padahal orang itu yang disakiti dan dikasari. Saya jadi malu sendiri. 😥

  2. Wah sering banget saya kayak gitu. Sampe2 sekarang saya musuhan dengan mantan temen saya udah 3 tahun. Karena suatu masalah, dan memang kesalahan dia (temen2 saya juga bilang gitu) jadi untuk apa minta maaf duluan. (Walau saya tau, itu gak boleh sebenernya) >.<

  3. Sama dengan Asop, aku juga pernah kayak gitu. Tapi ya ntah naif ato gimana pasti saya yang akan minta maaf lebih dulu dan (keseringan) berkali-kali, hanya untuk mastiin kalo semua udah baik-baik aja. Tapi sekarang justru mikir, minta maaf sekali aja, berlebihan gak bagus 🙂

  4. Artinya kamu lebih arif ya, bagus itu… Hehehehe. Meminta maaf duluan kadang merasa harga diri jadi jatuh, jadi merasa direndahkan, apalagi kalo kita gak salah. Ya itulah keangkuhan, perlu konsep pemikiran yang sedikit lebih mutakhir memang dibanding manusia biasa (baca: lebih arif)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s