Yang Berbicara Adalah Senjata, Mulut Pada Terdiam

Chapter : People

semua gambar tahu kan diambilnya dari mana??

  1. Lihat kedua kubu yang sedang berhadapan, warga yang bertahan di depan gerbang makam ‘mbah priok’ dan satpol PP yang siap dengan tameng dan senjata.
  2. Kedua pihak berseteru, bertempur layaknya melawan penjajah.
  3. Satpol PP tak ingat punya senjata, atau mungkin tameng dan senjatanya telah dirampas sehingga batu pun jadi untuk dipakai bertarung.
  4. Bagaimana satpol PP tidak dibilang preman dan beringas? saudara sebangsa sendiri dihabisi seperti musuh.
  5. Warga tidak tinggal diam, mobil habis dirusak dan dibakar  karena melawan benda mati lebih gampang daripada  satpol PP yang sedemikian banyaknya.
  6. Dan apa hasilnya? yang menjadi korban adalah diri mereka sendiri.

Rabu, 14 April 2010 kemarin, kerusuhan besar-besaran terjadi di Koja, Jakarta Utara. Bukan, bukan, bukan penjajah lagi yang datang lewat laut untuk menyerang Jakarta. Tetapi yang bertarung adalah warga di daerah Koja tersebut dengan Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Sampai saat saya menuliskan postingan ini, ada 3 orang tewas dari pihak satpol PP dan ratusan orang lainnya luka-luka. Penyebab peristiwa itu terjadi dikarenakan warga menolak penggusuran tanah setempat dikarenakan area tersebut merupakan makam mbak priok, orang yang berjasa menyebarkan Islam di daerah Jakarta Utara. Satpol PP tidak mau tahu, mereka yang dimintai bantuan oleh PT Pelindo II (pemilik tanah yang memenangkan tanah dari ahli waris sebenarnya) semangat menggusur tempat itu agar dapat dibuat sebagai lahan parkir peti kemas.

Yang digusur kali ini adalah makam, makam yang dianggap keramat oleh warga sekitar, dijadikan budaya, dan  sebagai tempat ziarah serta pengajian banyak orang. Ini sudah menyangkut masalah agama, menyangkut masalah kepercayaan banyak orang, jadi jangan disamakan seperti menggusur pedangang kaki lima ataupun bangunan liar. Jadi jangan heran jika mereka, para warga, mati-matian membela hal yang mereka anggap itu benar. Satpol PP tidak mau kalah, mereka menganggap itu benar karena mereka menjalankan tugas.

Yang saya herankan adalah, koq bisa-bisanya pimpinan satpol PP memerintahkan anak buahnya untuk main hajar, terus maju untuk menggusur, tanpa peduli siapa yang dihadang?! Omongan DPRD DKI Jakarta yang meminta ketua satpol PP untuk memberi perintah mundur kepada anak buahnya bahkan tidak digubrisnya. Bahkan anggota DPRD yang berkunjung ke tempat tersebut ikut terkena lemparan batu dan dikeroyok oleh satpol PP sendiri??!!

Masyarakat Indonesia sudah mulai gila. Makin banyak orang yang kehilangan akal sehat berpikir dan hati nurani. Salah satunya adalah mereka. Mulut rasanya tidak berguna untuk dipakai berbicara sehingga senjata dan anggota badan lain yang mengambil tindakan. Saya jadi ingat tweet seorang teman saya, dia bilang seperti ini ;

andai jaman dulu ada satpol PP, mungkin kita bisa menang lawan penjajah.

Advertisements

19 thoughts on “Yang Berbicara Adalah Senjata, Mulut Pada Terdiam

  1. parpol anarkis
    lihat aja gara-gara ulahnya, sampe ada 3 korban tewas di kubu parpol
    sungguh terlalu.
    kenapa harus dengan kekerasan?
    kenapa ga make jalan laen yang lebih bagus dari kekerasan?
    ada apa dengan Indonesia saat ini?

  2. yoi banget, gue juga kalo disuruh jadi satpol PP gw gak mau, gak tegaan gue, apalagi pas gusur PKL gitu.. gak tega pokoknya, tapi mereka kok tega gitu ya??

  3. menurut gue syl gue gakbisa salahin satpol PP gitu aja….pada dasarnya mereka cuma ngejalanin perintah kok. Kalaupun ternyata mereka bertindak anarkis, bisa juga karena sudah ‘dipanasin’ sama rakyat sekitar yang sudah berkobar-kobar. Tapi satpol PP (maupun massa di sekitar) juga gak bisa dibenarkan. Pada akhirnya itu semua balik ke individu masing-masing. Gak semua orang sudah hilang hati nuraninya. Mungkin salah seorang dari mereka ada saja yang masih bisa berpikir waras, tapi kalau kita di posisi mereka, katakanlah, teman kita sesama satpol PP dikeroyok massa sampai teman kita itu mati, apa kita bakal diem aja? pasti ada rasa buat bales dendam….
    well, hati nurani emang harus lebih sering digunakan sepertinya. yang kayak gini sih, bukan kaum beragama namanya. agama apapun itu.

  4. dua”nya salah
    Satpol PP karena terlalu anarkis. Anak kecil main dipukul aja
    warga juga karena lebih anarkis. Masak mereka main trampolin di tubuh satpol PP

  5. Udah lama ga berkunjung ke blog lo tiba-tiba isinya beginian.
    Merem gw pres liat gambar-gambarnya. Serem banget, sama seremnya kaya link yang dikasih citra di plurk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s