Earthquake

Chapter : Internship

Baru 2 hari lalu mendengar kabar bahwa Sumatra Barat, tepatnya di kota Pariaman, diguncang gempa sebesar 7,6 SR. Ratusan orang dikabarkan tewas, luka-luka, dan masih banyak lagi yang tertimpa reruntuhan bangunan, entah dalam keadaan hidup ataupun tidak. Listrik dan komunikasi yang sempat terputus, diperparah lagi dengan turunnya hujan deras yang mengguyur Sumatra Barat. Bayangkan, ribuan orang yang rela berhujan-hujanan, keluar dari rumah mereka, dalam keadaan gelap gulita, karena takut akan adanya gempa susulan. Atau bisa jadi rumah mereka telah rata dengan tanah sehingga tidak mempunyai tempat berteduh.

Rakyat Indonesia terhenyak, Pemerintah langsung tanggap dengan mengadakan rapat dadakan dan mengambil tindakan pengiriman bantuan secepatnya. Hampir semua stasiun TV membuka rekening baru untuk menyalurkan bantuan pemirsa untuk korban gempa di Sumatra Barat, padahal belum ada satu bulan mereka membuka rekening bantuan untuk korban gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat di daerah lain pun tidak ketinggalan, mereka langsung mengirimkan sukarelawan terutama tenaga medis yang sangat diperlukan.

Baru sehari berlalu, masyarakat Indonesia kembali dikagetkan dengan adanya gempa berkekuatan 7,0 SR yang terjadi di Jambi. Jika gempa Pariaman tersebut berasal dari bawah laut, maka gempa yang terjadi di Jambi ini berasal dari darat dan bukan merupakan gempa susulan Pariaman tersebut. Masyarakat yang disekitar Jambi pun ikut panik jikalau gempa bakal bergerak ke daerah mereka, termasuk pula orang-orang yang tinggal di Jakarta. Semua menjadi waspada.

****

Tadi pagi, teman saya di kantor berkata seperti ini :
waktu gempa kemaren (baca : gempa tasikmalaya), waktu gw lagi turun tangga darurat, liat orang-orang pada teriak-teriak, ketakutan, panik, gw baru nyadar, ternyata gw masih takut mati.”

Nah, saya yakin banyak yang berpendapat sama dengan teman saya itu. Walau kita semua sudah tahu, bahwa hidup dan mati itu telah ditetapkan Tuhan sejak kita lahir, namun ketakutan atau ketidaksiapan kita menghadapi kematian pasti ada. Ketidaksiapan itu pula yang mungkin menyebabkan kita berharap jangan sampai gempa terjadi di tempat kita tinggal. Ketidaksiapan karena masih banyak dosa, ketidaksiapan karena belum bertobat dan banyak berbuat baik, ketidaksiapan karena masih ingin menikmati kehidupan dunia, atau yang juga sering saya dengar : “gw belum nikah, belum punya anak, gw ga mau mati dulu.

Tuhan begitu gampangnya mencabut nyawa manusia, bukan hanya 1-2 orang, bukan hanya ratusan orang, ribuan orang ataupun lebih dapat tewas seketika dalam waktu yang bersamaan hanya dengan menggoncang bumi ciptaannya saja. Tetapi, masih banyak yang sepertinya tidak sadar bahwa terkadang Tuhan menurunkan cobaan bukan hanya untuk menguji hambanya saja, melainkan juga memberi peringatan bahwa kita bisa diambil kapanpun nyawanya, jadi, jangan menunggu sampai tua baru kita mau tobat, baru “akan” berbuat baik, atau baru ingat untuk menabung pahala. Saya juga bukan ingin menakuti-nakuti, karena sesungguhnya saya juga punya rasa takut. Tetapi, daripada saya memendam rasa takut sendirian, lebih baik saya bagi-bagi kan ? ;p

****

Hari ini Batik disahkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli dari Indonesia lho. Senangnya melihat batik dipakai dimana-mana hari ini. Ya di jalan, di kantor, di kampus, di tempat-tempat lain juga. Mudah-mudahan euphoria pemakaian batik tidak terjadi pada hari ini saja, yang penting kita tetap melestarikan pemakaian batik biar para pengrajinnya tetap ada dan tidak punah karena minimnya permintaan akan batik. Selamat Hari Batik!!

Advertisements

19 thoughts on “Earthquake

  1. huaaa iyaa sil keren bgt hari batik kemareeenn…
    gw mkn siang di blok m plaza jamnya orang soljum selesai dr atas eskalator penuh cowo2 muda mudi bpk2 mas2 om2 berbatik kereeeen bgt huhuuu……gw ama temen2 krj gw juga ga kalah batiknya hihi…

    haduuh udah ahhh jan ngomongin gempaa.seremmmm

  2. wah jakarta rame ya hari batiknya….
    aku kemaren ga tau kalo itu hari batik karena kelamaan tugas di desa gunung ga ad tipi ga bisa internet. :((

    Tentang gempa, aku sekarang juga agak was-was, ga kayak biasanya, karena di bali juga sering gempa. hhuuff….

  3. karena manusia memang ‘tempatnya salah dan lupa’, jadi harus sering-sering ‘dibenarkan’ dan ‘diingatkan’…

    semoga kita semakin sering mengingat kematian.

  4. temen2 gw juga banyak tuh yang stress gara2 keluarganya kena gempa di pariaman itu..

    banyak yang langsung pulang kesana malah…

    gw ga kebayang aja. pas gempa di bandung aja gw dah kalang kabut begitu. apalagi kalo sampe ada bangunan yang runtuh.

  5. iyah, turut berduka cita yha dengan sodara-sodara kita korban gempa,

    eh gw pas kuliyah jg make batik donk… 😀

  6. numpang lewat…
    gempa emang bikin takut…tapi ya mau gimana lagi, kita hidupnya emang di daerah berbahaya…rawan gempa. tinggal berserah diri aja…

    emang tgl 2 oktober udah jadi hari batik ya…

  7. gw turut berduka cita aja dehh

    moga mereka semua diberi ketabahan ama Allah swt.
    dan semoga ini jadi bencana trahir di indonesia

    amiin

  8. @ichaelmago : gempanya mang suka jalan-jalan. hehe
    @bochiel : cil,, kerja dimana sekarang? pantes ya sibuk.
    @putriastiti: wah..ketinggalan berita, sayang banget
    @joddie : setuju, biar kita cepet2 tobat
    @harun : iya run, biar kita sering inget mati
    @slugger : sampe stress ? parah banget, semoga ga kelamaan
    @arfgan : cieeee cadok pake batik
    @gerrilyawan : iya deh, pasrah aja
    @mitadriani : ikutan pake batik kan??
    @adhi ‘: ayo sering2 update blog
    @helga :amin
    @galih : sip, siap apapun yang terjadi ya..
    @ijal : tetep semangat juga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s