Maaf

Chapter : Personal

Selasa malam menjelang tidur, saya membaca lagi postingan saya di blogspot. “Anda orang penting.. begitu juga saya” judulnya. Lalu comment pertamax dari seseorang mengingatkan saya untuk membahas 1 kata ini. Dia bilang.. dia punya 3 kata sakti ketika bertemu dengan seseorang yang baru. Tolong.. Terima Kasih.. dan Maaf. 1 kata terakhir membawa ingatan saya pada kejadian April-Mei 2007 lalu.

Pada 2 bulan itu, saya mengikuti kepanitiaan Olimpiade UI 2007 dan bertugas sebagai staff dokumentasi. Pertandingan yang diadakan sangat banyak, dan tersebar di lapangan setiap fakultas atau di gymnasium UI. Tetapi orang-orang yang bertugas hanya 6 orang saja termasuk PJ (Penanggung Jawab) Dokumentasi dari 15 orang lebih yang berkomitmen untuk bekerja di rapat pleno pertama (Mereka sama sekali tidak kerja!).

6 orang bekerja untuk mendokumentasikan pertandingan tidaklah cukup. Belum lagi di waktu bersamaan bisa digelar 2-3 pertandingan di tempat berbeda. Dan tentunya kita semua tidak mau itu menggangu jadwal kuliah. Termasuk saya. Yang waktu itu masih mahasiswa baru dan lagi berjuang keras untuk ningkatin IPK. Alhasil, begitu banyak pula kata maaf yang saya ucapkan kepada PJ saya atas ketidakhadiran atau keterlambatan saya di pertandingan.

Tetapi saya terlalu jahat untuk memanfaatkan kata itu menjadi senjata ampuh saya. Terkadang saya tidak hadir bukan karena jadwal kuliah lagi, dan terpaksa saya bilang ada acara di rumah atau bilang keesokan hari ada tugas atau presentasi sehingga tidak bisa mendokumentasikan pertandingan sore hingga malam hari. Padahal acara yang saya maksud adalah acara nonton tv di rumah, baca komik, dan leha-leha. Juga agar saya tidak pulang sendirian menjelang malam. Tetapi dia (baca : PJ) selalu bilang “gapapa kok..” atau “oh mau presentasi?? semangat ya !” tanpa sadar bahwa saya telah membohonginya.

****

Pagi itu, sekitar jam 10-an, saya sudah berada di kampus untuk janjian dengan PJ saya memberikan hasil foto pertandingan-pertandingan terakhir. Lagi asik2nya menunggu, tiba2 teman 1 tim saya yang juga teman satu kelas, mendatangi saya sambil berkata..

Teman saya : Pres, ngapain lo dateng ? kan lo ga ikut SP (Semester Pendek).

Saya : Lah?? kan katanya kita mau kasi foto2 ke ****** (PJ)

Teman saya : Lo ga di sms-in sama dia? dia kan ga jadi dateng.. gue pikir lo di sms-in, soalnya kan selama ini dia selalu sms lo.. jadi gue ngga kasi tau

Saya : Kok gitu ??!! (bergegas ambil hp lalu sms PJ saya)

Ga jadi dateng ke kampus? kenapa?

Lalu apa jawabannya ??

Gue dah 1 jam lebih di stasiun Bogor nungguin kereta, karena keretanya ga dateng2,, yaudah gue pulang ke rumah., SORRY ya.. Mang *temen saya* ga kasi tau ke lo??

Saat itu saya sangat kesal karena kedatangan saya ke kampus sia-sia. Apalagi mengingat perjalanannya yang panjang dari rumah ke kampus. Hingga sesaat sebelum terlelap, saya berpikir akan sesuatu. Ketika ada orang lain meminta maaf kepada kita, muncul perasaan lain yang semakin menjelaskan, bahwa maaf terkadang menyebalkan. Saya seenaknya mengumbar kata maaf tanpa memikirkan perasaan orang yang dirugikan. Tanpa tahu bahwa mungkin orang tersebut walaupun menerima dan memaafkan, ada perasaan kesal yang tersisa.

1 maaf yang diucapkannya kepada saya tidak sebanding dengan banyaknya maaf yang saya ucapkan padanya. Lalu, mengapa saya harus marah dengannya ?

Maaf itu bagus, untuk menghapus rasa dendam. Tetapi tidak semestinya saya atau bahkan orang lain diluar sana menganggap bahwa itu bisa menyelesaikan semuanya. Ada hal-hal lain yang semestinya kita usahakan -di luar kata maaf- agar dia tidak kecewa dengan kesalahan yang kita lakukan. Dan saya.. benar2 dibalas oleh Tuhan. Thank God.

Advertisements

26 thoughts on “Maaf

  1. wah seseorang itu saya? Tq ya. Iyah jangan terlalu sering bilang maaf. Lagian ngapain juga sih bohong? hehe

    katanya presy__L : gw ga suka boong don,,dan gw juga ga boong sebenernya.. hanya saja gw mencari kata2 yg lebih halus. bener kan gw ada acara di rumah ?? acara nonton tv..

  2. Biar bagaimanapun anatara yang memberi maaf dan yang di maafkan lebih di untungkan yg memberi maaf …
    Jadi banyak2lah memaafkan orang … Piss …

  3. Sorry baru bisa mampir2.. hehe.. sibuk betul sih, udah jarang bisa pegang komputer beberapa minggu ini..

    gw setuju, kalo maaf bukan sebuah bayaran yang paling tepat untuk sebuah kesalahan, harus ada konsekwensi yang sifatnya berupa hukuman ato apapun itu untuk menebus apa yang menjadi kesalahan itu sendiri

  4. @presyl, saya kok baru sadar ternyata blognya baru. Pantes, soalnya sempat inget, kayaknya presyl dulu bukan gini blognya.

    atau jangan2 presyl ada sodara kembar hehehe…

    semangat deh!! salam kreatif!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s