Renungan Kloset

Chapter : Personal
Judul blog diatas sama persis dengan judul bukunya Rieke Dyah Pitaloka. Sinopsisnya kurang tahu secara detail, secara yang mau saya bahas disini bukan isi buku tersebut. Katanya buku tersebut berisikan renungan-renungan seorang Rieke ketika berada di kloset.
Mmpphh.. setelah baca artikel tersebut di Kompas beberapa hari lalu, saya jadi punya pemikiran. Ternyata ada toh orang yang seperti saya?

Maksud dengan kalimat tanya tersebut? Yak.. maksudnya hal yang dilakukan Rieke sama dengan saya, bukan dalam menerbitkan buku (maunya itu), tapi dalam merenung dengan duduk di kloset.

Ini beneran lho, saya sering melakukannya. Ada aja yang dipikirin (bahasa kerennya direnungkan) ketika duduk di kloset. Baik ketika (maaf) sedang buang hajatan ataupun sengaja masuk kamar mandi, trus tutup kloset diturunin, lalu duduk dengan santainya, kadang sambil duduk bersila segala.

Dari merenung memikirkan apa yang salah dalam belajar sehingga nilai ujian yang didapat standard, cara naikin IP dan IPK buat semester berikutnya, milih-milih tulisan apa yang bakal dibahas di blog, dan berbagai macam pemikiran lainnya, pernah dilakukan di atas kloset tersebut.

Berandai-andai juga pernah, dari duduk di kursi depan yang bertuliskan nama saya di kursinya saat wisuda nanti di balairung sampe ngayal bakal magang di big four KAP (Kantor Akuntan Publik) trus dapet honor mpe belasan juta, plus barang-barang apa yang mau dibeli. Padahal masukin lamaran di KAP aja belum.

Tidak hanya itu saja, kalau lagi nangispun juga duduk di tempat itu. Soalnya kamar mandi adalah tempat yang paling private, kalau di kamar, semua orang rumah bisa seenaknya masuk, kan ngga lucu ketauan lagi nangis. Ngunciin kamar apalagi, lebih ketauan ada sesuatu yang aneh. Selain itu, jika mata memerah setelah nangis, waktu keluar kamar mandi trus ditanyain, “kok kamu matanya merah?” langsung menyiapkan jawaban, “iya, kena sabun waktu cuci muka“. Nulis buku kadang2 juga disana.

Heran? saya juga bingung kok saya sampai segitunya.

Sebenarnya selain kloset ada lagi tempat renungan yang ampuh di rumah. Yaitu Renungan Atap, bahasa jeleknya Renungan Genteng. Seneng aja duduk di genteng, walaupun rumah saya tidak lebih tinggi dari rumah-rumah tetangga, tetep aja asik.

Nikmatin angin sepoi-sepoi, sambil ngeliatin anak-anak SD lagi pada main di sekolahan dan di masjid yang berada di belakang rumah. Sambil nenangin pikiran juga. Malahan sampai loncat main ke rumah tetangga sebelah. Tapi sekarang udah jarang kesana, tetangga sebelah udah ganti, anak-anaknya sudah pada nikah semua, alias bukan temen seumuran. Kan ntar dia kaget ngeliat ada anak perempuan lagi nongkrong dengan asiknya di genteng.

Intinya, sekarang saya tidak merasa aneh lagi melakukan hal tersebut, soalnya saya tidak sendirian, hahaha. Coba seandainya Rieke tidak menerbitkan buku tersebut, pastinya saya tidak akan mengumbar cerita ini..

Kalian sendiri punya tempat yang bagus tidak buat merenung atau menenangkan diri? atau ada yang seperti saya dan Rieke? hehe

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Kloset

  1. wah, entah kenapa, saya juga sering merenung di kamar mandi
    enggak taw kenapa, tiba2 ada aja yg kepikiran kl lagi dsana
    padahal kl di tempat lain ( bukan kamar mandi ) hal tsb ga kepikiran, tb2 pas di kamar mandi langsung muncul aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s